Buku Detik-detik yang Menentukan
Sosok Letjen Prabowo di Mata Habibie
Sumber:
http://news.detik.com/pemilu2014/read/2014/06/13/134711/2607344/1562/1/sosok-letjen-prabowo-di-mata-habibie
Jakarta -
BJ Habibie mencopot Letjen Prabowo Subianto dari posisi Pangkostrad
pada Mei 1998 karena menggerakkan pasukan Kostrad tanpa koordinasi
dengan Pangab. Sebenarnya seperti apa sosok Prabowo di mata Habibie?
Saat
memutuskan akan mencopot Prabowo dan Pangkostrad, di benak Presiden
Habibie muncul banyak pertanyaan. Habibie heran mengapa Prabowo tanpa
sepengetahuan Pangab telah membuat kebijakan menggerakkan pasukan
Kostrad. Padahal sebagai seorang militer profesional, Pangkostrad harus
memahami saptamarga dan sumpah prajurit.
Habibie bertanya-tanya
kenapa Prabowo mengambil langkah itu. Habibie tak tahu alasan dan tujuan
Prabowo melakukan itu. Ia mencoba menerka apa alasan dan tujuan Prabowo
melakukan hal itu, sebelum menemui Prabowo yang meminta waktu menghadap
di last minute sebelum pergantian Pangkostrad itu.
Dalam buku
'Detik-detik Yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi'
karya BJ Habibie, seperti dikutip detikcom, Jumat (13/6/2014), Habibie
memaparkan penilainnya terhadap sosok Prabowo, sampai pada kesimpulan
penyebab Prabowo melakukan tindakan tanpa koordinasi tersebut.
"Prabowo
lahir dan dibesarkan di lingkungan yang sangat intelektual dan
rasional. Disiplin intelektual memungkinkan untuk menganalisis,
mempertanyakan, memperdebatkan tiap jejak seorang diri atau dengan
lingkungannya, termasuk dengan atasannya. Berbeda halnya dengan disiplin
militer. Setiap langkah harus dilaksanakan sesuai perintah atasan
walaupun bertentangan dengan pendapat pribadi pelaksana perintah
tersebut," kata Habibie dalam bukunya.
Di mata Habibie, pembawaan
Prabowo Subianto masih bernapaskan disiplin intelektual yang dalam
melaksanakan tugasnya tidak selalu menguntungkan. Sebagai seorang
militer profesional, ia harus tunduk pada disiplin militer.
"Karena
Prabowo adalah menantu Presiden Soeharto di mana budaya feodal masih
subur, maka dalam gerakan dan tindakannya sering terjadi konflik antara
disiplin militer dan disiplin sipil. Apa pun yang dilakukan akan
ditolerir dan tidak pernah mendapatkan teguran dari atasannya," kata
Habibie mengungkap eksklusivitas yang melekat pada sosok Prabowo.
Jakarta -
Kebiasaan pemberian eksklusivitas kepada Prabowo, menurut Habibie,
mungkin salah satu penyebab gerakan pasukan Kostrad tanpa tanpa
konsultasi, koordinasi, dan sepengetahuan Pangab terjadi. Menurut
Habibie, kebiasaan tersebut mungkin terjadi bukan karena kehendak
Presiden Soeharto. Tetapi lingkungan feodal lah yang memperlakukannya
demikian.
"Walaupun saya sangat akrab dan dekat dengan Prabowo,
ia menganggap saya sebagai salah satu idolanya, kebiasaan tersebut tidak
boleh saya tolerir dan biarkan ini satu pelajaran bagi semu bahwa dalam
melaksanakan tugas, pemberian eksklusivitas kepada siapa saja, termasuk
kepada keluarga dan teman, tidak dapat dibenarkan," katanya.
Namun
bagi Habibie, Prabowo Subianto adalah putra tertua dari keluarga yang
sangat terhormat, sangat intelektual, dan sangat kritis. Bahkan ayah
kandungnya adalah salah satu idola saya sejak masih SMA. Dedikasi
Prabowo begitu pula orang tua dan saudara-saudaranya terhadap bangsa dan
negara, tidak perlu diragukan.
"Saya percaya bahwa iktikad dan niat Prabowo untuk melindungi saya adalah tulus, jujur, dan tepat," terang Habibie.
Masalahnya
iktikad dan niat yang baik dan tepat itu dilaksakannya tanpa
sepengetahuan dan koordinasi Pangab. Kesimpulan itu diambil Habibie
ketika mendapat laporan dari Pangab mengenai gerakan pasukan Kostrad.
"Dari
laporan tersebut secara implisit dinyatakan bahwa tindakan Pangkostrad
tidak sepengetahuan dan dikoordinasikan dengan Pangab. Ini tidak dapat
saya tolerir karena memengaruhi para komandan lainnya untuk bertindak
sendiri-sendiri dengan alasan apa pun tanpa koordinasi. Sikap demikian
dapat mengakibatkan kekacauan bahkan perang saudara yang memungkinkan
proses Balkanisasi Republik Indonesia," tegasnya.